Apa Itu Histogram pada digital Photo?

Histogram

Pertama lihat display histrogram, saya cenderung tidak perduli (cuek aja), toh… saya pikir foto yang saya jepret sudah kelihatan bagus. Histogram display ini biasanya dapat kita lihat di menu preview option di menu digital camera. Lama-kelamaan, saya sempat penasaran dengan histogram ini. Apa sebenernya sih histogram dari setiap photo image yang kita hasilkan? Informasi apa yang kita dapat dengan histogram ini? Terus gimana cara mengontrol nya? Mulailah saya baca-baca buku yang dulu pernah saya lewatkan, ternyata histogram ini sangat penting bagi kita untuk mengevaluasi dan menganalisa setiap hasil foto kita – yaitu melihat tingkat exposure dari bidikan kita. Paling tidak untuk Landscape photography dan ini dapat kita lakukan persis kita setelah men’jepret’ nya di lokasi pemotretan. Histogram sebenernya adalah suatu bentuk grafik sederhana yang menunjukkan nilai ‘tonal’ yang tersebar dalam suatu foto (lihat gambar histogram).

Dibagian paling kiri adalah nilai tonal ‘hitam’ tanpa detail (level 0 – nol), sedangkan di sebelah ujung kanan adalah total nilai tonal ‘putih’ tanpa detil (level 255). Tidak ada bentuk histogram yang dapat menjadi patokan, karena setiap foto mempunyai elemen dan tujuan yang berbeda-beda dan mempunyai susunan nilai ‘shadow’, ‘midtone’ dan ‘highlight’ tersendiri. Misalnya saja foto yang gelap, misalnya foto yang diambil malam hari, maka histogram nya akan lebih banyak mengelompok di sebelah kiri, sebaliknya foto-foto yang diambil siang hari, maka kurva histogram nya akan mengumpul di sebelah kanan.

Kontrol Histogram

Untuk mengontrol bentuk pola histogram dengan tujuan untuk menghasilkan foto yang optimal exposure nya ada tiga (3) hal penting yang menjadi pertimbangan yaitu –
(1) Clipping, untuk mencegah daerah ‘highlight’ (daerah terang sebelah kanan) dan daerah ‘shadow’ (daerah gelap sebelah kiri) terpotong (‘clipping’); hal ini untuk meyakinkan foto tidak ‘over’ exposure’ atau ‘under’ exposure – khususnya di sebelah sisi kanan histogram. (2) Tonal detail di kanan kiri terekam dg baik. (3) Raw Files, hal ini perlu menjadi pertimbangan untuk mendapatkan informasi yg sebanyak-banyak nya dari hasil foto yang dihasilkan yaitu pada format ‘asli’ nya (raw file).

Apapun metode yang digunakan, yang terpenting adalah memahami exposure digital camera yang baik adalah merekam cahaya dan menempatkan harga kurva tonal histogram yang tepat pada subyek yang gelap maupun terang, sehingga mempunyai keleluasaan dan fleksibilitas untuk mencapai tujuan yaitu membuat foto yang baik.

  1. Clipping Control -Untuk mendapatkan hasil foto dengan exposure yang tepat, adalah dengan melihat dan meyakinkan bahwa tidak ada tonal ‘terang’ (highlight) maupun tonal ‘gelap’ (shadow) yang terpotong / terpancung, atau dengan kata lain grafik histogram yang dihasilkan mempunyai bentuk kurva dari kiri ke kanan yang bentuk kurvanya tidak ‘berhenti’ tiba-tiba di ujung kanan dan kiri nya. Jika melihat hal ini, segera lakukan evaluasi apakah exposure nya harus dikurangi atau ditambah dengan melakukan setting exposure compensation di camera digital (+/-). Mengontrol ‘clipping’ ini cukup sulit, terutama untuk foto-foto di siang hari atau terang dengan kontras yang tinggi, inilah alasan lain mengapa penting mengambil dalam bentuk file ‘asli’ (raw) – sehingga dapat dilakukan perubahan yang mendasar nantinya. Yang terpenting foto anda terlalu ‘terang’ tapi masih dapat melihat detil bagian gelapnya. Walaupun hal ini dapat dilakukan dengan perangkat lunak photoshop, tapi yang terpenting adalah bagaimana mengambil foto aslinya dengan exposure yang tepat dan baik, yang akan menghasilkan foto lebih baik lagi.
  2. Tonal detil dan baik – Dengan terus melakukan latihan dan kebiasaan melakukan evaluasi histogram setiap kita mengambil foto, maka perubahan atau menyunting yang rumit akibat kesalahan exposure akan dapat dikurangi dan hal ini akan jauh akan banyak menghemat waktu anda. Terlalu terangnya daerah gelap dari suatu foto yang underexposured akan memperlihatkan celah besar histogram (exessive gap) dan anda perlu melakukan perubahan tonal level yang lebih halus. Terkadang kita harus melakukan pengurangan ‘noise’ di photoshop untuk dan mungkin saja kita sudah mahir melakukan hal ini, tapi tentu saja hasilnya tidak akan sebaik dengan foto yang sudah sempurna tanpa noise. Teknik yang baik adalah sebisa mungkin menghindari noise dengan menghasilkan foto dengan exposure yang tepat. Tentu saja, hal ini tidak selamanya dapat dilakukan, khususnya pada saat situasi gelap, tapi hal ini harus menjadi bahan pertimbangan.
  3. Raw files – Ketika sensor digital camera merekam cahaya dengan aperture tertentu (bukaan diafragma) dan setiap anda mengurangi satu kali stop bukaan diafragma, maka sensor akan mengurangi intensitas cahaya setengahnya, misalnya anda memakai f5.6 akan lebih terang dibanding anda memakai f8. Mungkin sudah pernah mendengar, lebih baik mengambil foto yang underexposured untuk mengurangi resiko daerah terang menjadi ‘terbakar’, karena jika daerah ‘highlight’ (terang) sudah ‘terbakar’ yaitu dimana sudah menjadi total terang (putih semua), maka daerah ini tidak akan bisa dilakukan perbaikan lagi saat anda melakukan perbaikan raw file (raw file processing).Sebaiknya suatu hasil foto usahakan untuk menghasilkan data histogram yang jauh ke kanan tanpa terpancung (non clipping), gunakan metode berikut, tambahkan kompensasi exposure 1 atau 2 stop, foto mungkin akan terlihat terang di LCD screen kamera, tapi hal ini akan mudah dirubah saat proses konversi raw file tanpa menimbulkan efek samping seperti saat menerangkan daerah gelap pada hasil foto yang ‘underexposured’. Metode ini sangat jitu untuk foto landscape photography, dimana dapat dilakukan juga dengan mode manual dan mengurangi shutter speed atau menambah aperture bukaan diafragma.

Salam,
Sad Agus



Persiapan Sesi Foto Landscape

Tinjauan Lokasi dan Waktu  
Jika mendengar landscape photography, yang terbayang didalam pikiran kita adalah suatu foto pemandangan yang indah yang tentunya salah satu foto jenis ‘outdoor’ yang diambil tidak didalam studio; sehingga sebelum melakukan perjalanan untuk suatu sesi pengambilan foto landscape ada baiknya kita melakukan penelitian tempat-tempat yang akan dikunjungi. Penelitian (kata umum biasanya ‘survey’) pendahuluan ini perlu dilakukan guna efektifitas dan tujuan yang tepat – apalagi jika tempat tersebut belum pernah kita kunjungi. Saya coba praktekan hal ini, ternyata memang benar-benar ampuh; walaupun tempat nya dekat dan belum kita ketahui.

Penelitian lokasi ini, bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan melihat peta yang tersedia, informasi dari beberapa kolega dan media informasi lainnya. Yang paling jitu dan cepat adalah melalui internet, anda bisa menggunakan email untuk bertanya kepada beberapa rekan yang pernah berkunjung ke lokasi tersebut, atau ‘searching’ melalui mesin pencari internet misalnya: google atau yahoo, bahkan dapat juga menggunakan Google Earth atau Google Map, yaitu peta bola bumi sehingga dapat melihat cukup detil tempat tersebut, seperti route jalan yang akan ditempuh, sungai atau pantai yang kelihatan dapat menjadi spot pengambilan. Beberapa tempat disekitar Jakarta dan Jawa Barat yang banyak dikunjungi oleh rekan-rekan komunitas fotografer di Indonesia, antara lain: kota tua dan pelabuhan sunda kelapa – Jakarta, daerah Serpong – Tangerang, Ujung Genteng di Sukabumi, pelabuhan Ratu, Jawa Barat dan Ciwidey di Bandung Selatan dan banyak lagi. Dari beberapa pendapat rekan senior fotografer, hanya Pulau Bali lah yang paling komplit, ada pegunungan, pantai, budaya dan tempat – tempat ibadah yang dapat dijadikan sesi ‘hunting’ foto yang menarik. Setelah paham betul, mengenai lokasi rencanakan route perjalanan anda, tentukan titik-titik pemberhentian yang diperkirakan menarik dan baik untuk pengambilan foto landscape; hal ini tidak perlu anda lakukan jika anda ikut bersama dalam acara ‘hunting’ foto bersama komunitas atau kelompok; yang biasanya sudah ada penunjuk atau ketua kelompok yang membimbing. Selang waktu yang tepat untuk bepergian sesi sebaiknya di musim panas. Di Indonesia biasanya dari bulan Maret sampai September. Saat rentang waktu ini, intensitas sinar matahari cukup kuat dan baik ditangkap sensor kamera digital atau film. 
Peralatan






  • Kamera – bisa berupa kamera digital atau film. Para fotografer professional atau amatir serius seringkali membawa lebih dari satu kamera, kamera utama dan kamera cadangan atau juga kamera rubahan infra merah (Digital Camera Infra Red Converted). Maraknya kamera digital di era teknologi, menyebabkan sudah banyak orang meninggalkan kamera film; dengan harga 5 jutaan sudah bisa menghasilkan foto digital resolusi 10 Megapixel. Yang lazim digunakan oleh para penggemar fotografi landscape adalah jenis kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect); dimana lensa nya dapat diganti setiap saat sesuai keperluan. Beberapa kajian (review) untuk kamera digital yang cukup diminati dan berguna adalah situs Digital Photography Review.
  • Lensa – Untuk landscape photography biasanya jenis lensa ‘wide-angle’ yang diperlukan; karena lensa ini mempunyai cakupan luas, baik yang fixed atau yang zoom. Jika fixed, dianjurkan untuk membawa cadangan lensa ukuran normal range (35mm atau 50mm).
  • Filter– Filter ND (natural density) atau Gradual ND berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya saat pengambilan gambar – sehingga DOF (Depth of Field) bisa maksimal. Filter Polarizer berguna untuk men’dalam’kan warna, misalnya warna langit dapat menjadi lebih biru, daun lebih hijau; filter ini juga dapat tembus pandang obyek dibawah air. Sedangkan untuk menghasilkan foto landscape Infra Red, Infra Red filter banyak tersedia di pasaran, seperti merek Hoya (R72) dan Cokin (P007), harga filter ini biasanya lebih mahal dari filter-filter jenis lain.
  • Tripod – Alat tambahan fotografi ini sangat dianjurkan, karena hampir semua foto landscape yang baik dihasilkan dengan menggunakan tripod. Ingat: foto under exposure atau over exposure masih bisa diperbaiki dengan cara bracketing atau dengan perangkat lunak pengolah foto, tetapi foto yang ‘blur’ sangat sulit dan hamper mustahil diperbaiki.
  • Cable release – Alat tambahan ini berfungsi untuk mengurangi jika ada guncangan kecil (micro shake) saat anda menekan shutter, akan sangat bermanfaat jika shutter speed yang rendah.
  • Memory Card & Battery Cadangan – Untuk menjaga kehabisan media penyimpanan dan tenaga bagi kamera digital anda selama sesi pengambilan berlangsung; tidak jarang ada fotografer yang harus pulang atau berhenti jepret karena kehabisan dua benda yg ‘kecil tapi penting’ ini.
  • Tas Kamera – Jenis back pack banyak disukai untuk perjalanan fotografi landscape dengan berbagai alasan, misalnya mudah membawanya, muat banyak, biasanya tersedia ‘selimut anti hujan’ dan kait tripod.

Jangan lupa anda harus bangun awal pagi untuk melakukan sesi pengambilan foto landscape, jika perlu set alarm anda untuk menghindari kehilangan momen ‘golden hours’ atau ‘blue hours’, sunrise. Tidak semua kita mendapatkan bakat sebagai hadiah dari Tuhan untuk menghasilkan foto yang baik kecuali dengan melakukan latihan dan persiapan yang baik. Salam jepret,  Sad Agus at my official website