Yogya Hunting 2010

Aku diundang sama adik-adik Mahasiswa AAPG student chapter dari UPN Veteran Yogyakarta untuk kasih dan sharing mengenai “Wellsite Geology & Wireline Log”. Berangkat naik kereta api Argo lawu bareng sama Istri, ya… hitung2 sambil liburan ke Yogya sambil hunting foto, karena udah lama juga DSLR ku (Nikon D3 dan Nikon D80 Goldie infra red) gak di’panasin’.

Tamansari, Yogyakarta

Singkat kata, aku sempetin jalan-jalan ke seputar kraton Yogyakarta, tapi memang betul; kalau gak masuk kedalam kita akan sedikit sulit mendapat obyek foto yang baik. Alhasil foto-foto IR ku dari luar pagar Kraton gak begitu menarik. Kemudian aku dan istri terusin masuk ke Tamansari. Ternyata setelah masuk ke area tempat kolam pemandian putri2 jaman dahulu, obyek nya cukup menarik dan aku pikir merupakan obyek Infra Red Photography yang sangat bagus.

Untuk session ini aku cuman mengandalkan Nikon D80 DSLR (10 Megapix) yang sudah di convert Goldie myinfrared (Dibyo Gahari) dilengkapi dengan Lensa Nikkor 14-24mm/f2.8D yang punya efek distorsi luar biasa baiknya disertai ketajaman yg baik; tentu aja aku gak akan lupa dari nasehat dan saran dari master Pak Yadi Yassin untuk mempertimbangkan pengambilan dengan ‘low angle’. Dari mulai bangunan-bangunan budaya, kolam-kolam pemandian dan tentu aja adanya pot-pot tanaman yg berukuran besar menjadi obyek foto-foto Infra Red ku; untuk beberapa hasilnya bisa dilihat di album Infra Red (3) fotoku.

Esoknya, aku sempatkan untuk meneruskan berburu ke daerah selatan Yogyakarta, tentu aja ke pantai Parangtritis. Disana aku inget waktu kuliah dulu, pernah praktek pengenalan lapangan yaitu mengenal gumuk pasir (sand dune) dan ada nya sungai besar sebelum masuk area Parangtritis; aku pikir ini menjadi obyek yg menarik buat landscape photography dengan memakai Nikon D3 kesayanganku. 
Sebelum masuk Parangtritis
Minta bantu untuk ditemenin sama adik Ipar – Eddy; sambil ngobrol dan santai akhirnya kita sampai di Parangtritis, 2 km sebelum masuk Parangtritis, setelah sungai besar, disisi kanan terlihat sand dune yang menarik. Langsung pasang filter Gradual ND dan CPL, bawa tripod, jepret sana-sini, beberapa kali mencoba cari posisi yang enak untuk komposisi yang aku pikir bagus untuk landscape photo.
Sand Dune, Parangtritis
Ada obyek batang pohon yang mati dan batu berukuran pesawat telpon yang bisa dijadikan foreground dan POI (Point of interest). Hasilnya bisa dilihat di album picasa album online ku.
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat,

Sad Agus
Geologist yg hobby “Landscape Photography”
Album online-ku

Tedi’s Snake

Dapet SMS dari adikku, Tedi; kalau dia habis nangkap ular sanca sebesar paha kaki orang dewasa. Jadi cerita bermula dari penduduk sekitar Komplek MA, Pamulang Estate, bahwa ada ular sanca besar yang sering ‘nongol’ dan mengganggu ketentraman penduduk dan khawatir dapat memangsa siapa saja, terutama anak-anak kecil yang sedang bermain.

Tidak disangka hari itu, ular tersebut ‘nongol’ dan langsung saja beberapa warga manggil Tedi. Emang Tedi udah sejak mahasiswa punya kegemaran dan dekat dengan binatang; apalagi yang namanya ular… wah, langsung aja dia berangkat. Dengan dibantu beberapa orang warga akhirnya ular tersebut dapat dilumpuhkan. Tentu aja masih terhitung ganas. Singkat kata, ular tersebut langsung menjadi penghuni baru rumah Tedi dan sudah dibuatkan kandang dari bambu di pekarangan depan rumahnya.
Sekitar 3 minggu yang lalu, saya sempatkan untuk bisa ambil gambar ular tersebut ditambah dengan koleksi beberapa ular sanca lainnya. Agak sulit buat saya untuk mengambil posisi yang bagus buat ular sanca yg masih ganas – hasil tangkapan kemarin. Sebetulnya saya ingin sekali, karena ukurannya yg cukup fantastis bagi seorang yang masih bukan terhitung pawang. Berat sekitar 70 kg dengan panjang 5 meter; sayangnya tubuh indah ular sanca ‘raksasa’ tersebut sudah dipenuhi luka; termasuk mulutnya yg terlihat moncongnya hancur akibat pukulan dari orang-orang yang merasa terganggu pada saat-saat sebelumnya.

Ini salah satu gambar Tedi dengan salah satu ular sanca kesayangannya yang sudah jinak. Ular sanca yang satu ini, menurut dia, baru saja berganti kulit sehingga tekstur warnanya terlihat indah.
Hasil dari beberapa jepretan saya, bisa dilihat di album online saya.

Semoga berkenan.
Sad Agus
Digital Camera dan lensa yang digunakan

  • Nikon D3 (12.3 Megapixel)
  • Lensa Nikkor Micro 60mm F2.8
  • Lensa Telezoom Nikkor VR 70-300mm F4.5-5.6

Album Foto FLASH

Saya coba buat album foto dalam bentuk FLASH, sebetulnya mempelajari Adobe flash bagi orang awam seperti saya ini pasti sulit sekali alias ‘njelimet’ banget, lah wong gimana gak njelimet? wong ada perintah ‘goto’, ‘animation’, belum lagi ditambah perintah-perintah ‘if else…’ atau perintah-perintah script lainnya, waduh… ndas pecah rasanya.

Akhirnya setelah lihat-lihat di toko – toko software ternyata ada yang jual software untuk buat album flash ini dan kelihatan udah cukup bagus dari hasil-hasil templatenya saja. Akhirnya jadilah beberapa album flash yang saya buat, untuk itu bisa dilihat hasilnya dari beberapa percobaan, yaitu:

1. Album Infra Red (8 foto Infra Red).

2. Album Campuran (6 foto macro dan high speed)

    Untuk selanjutnya, tampilan web saya akan saya buat berbasis flash; ini baru sebatas niat saja; untuk itu perlu sedikit belajar mengenai Adobe flash lagi. Kedua Album FLASH diatas hanya sebatas percobaan saja. Untuk halaman Album FLASH yang resmi dari website saya; nanti akan saya beritahukan

    Semoga bermanfaat,
    Sad Agus

    Hunting Sendiri

    Udah lama gak pegang DSLR ku, terutama yang Nikon D80 Goldie IR. Terus tadi coba jalan-jalan ke belakang rumah yang ada danau nya. Obyek yang bisa dijadiin obyek, jala ikan, terus beberapa landscape ke arah perumahan Vila Pamulang. Setelah itu coba ambil jalan muter ke arah Jalan Salak untuk cari obyek baru, ternyata ada nya cuman kuburan dan beberapa rumah penduduk asli Betawi dan ini kurang menarik; tapi lumayan badan mulai mengeluarkan keringat. Akhirnya ada kebun anggrek punya penduduk dan petani kangkung, tapi suasananya ada asap pembakaran sampah.

    Untuk hasilnya bisa dilihat di Album Infra Red (2)
    Tentu aja kritik dan saran nya bisa kirim e-mail ku atau isi buku tamuku.

    Salam,
    Sad Agus

    Mengurangi Noise Foto Digital

    Salah Satu Metode Pengurangan Noise
    Yang dijelaskan dalam tulisan ini adalah sebagian kecil dari beberapa metode yang digunakan oleh para pengguna perangkat lunak pengolah foto yang tersedia di pasaran. Sehingga masukan dan kritik dari para pembaca juga diharapkan sebagai proses pembelajaran bersama. Noise biasanya akan tampak pada foto-foto under exposure / gelap atau foto dengan setting ISO tinggi. Noise (titik halus pada photo) bisa terlihat merata dan datar di bagian-bagian yang tone gelap seperti langit, awan, dinding, lantai, pakaian warna gelap dan banyak lagi lainnya. Ada dua (2) metode untuk mengurangi noise adalah dengan menggunakan Filter “Surface Blur” dan “Reduce Noise”.



    Dengan Filter “Surface Blur”
    Filter surface blur akan memburamkan detil halus sementara batas pinggir akan tetap terjaga jelas, sehingga proses pem’filter’an ini cukup baik. Kontrol slider “Radius” untuk menentukan besar kesan ‘blur’ dan ‘halus’ yang diterapkan dan slider “Threshold” untuk banyaknya nilai tonal yang diburamkan (Blurred Tonal Value). Mulailah dengan setting angka “Radius” rendah antara 2 sampai 3 dan tambah sedikit demi sedikit nilai “Threshold” sambil melihat dampak nya pada gambar / foto.

    Dengan Filter “Reduce Noise”
    Metode dengan filter ini, mempunyai banyak kontrol  dan mempunyai kemampuan untuk mengurangi JPEG ‘artifact’ – sekaligus dapat menyimpan ‘preset setting’ yang dapat kita gunakan pada image foto yang lain yang mirip.

    Edge masking adalah salah satu proses pemilihan sebagian obyek yang perlu dikurangi noisenya dan dibagian lainnya tidak tersentuh dengan proses ini. Misalnya langit / awan yang noise tinggi sementara batas-batas pohon tidak termasuk dalam prosesnya.

    Cara membuat Edge Masking

    1. Periksa color channel dan pilih yang paling kontras, misalnya red channel.
    2. Di channel pallete, drag red channel ke New Channel button dibawah untuk mengcopy layer channel menjadi “red copy”, rubah namanya menjadi “edge mask”.
    3. Pilih Filter > Stylize > Find Edges.
    4. Pilih Image > Adjustments > Level, geser ‘highlight’ slider ke kiri untuk menambah putih daerah terang, kemudian geser slider midtones dan shadows untuk mendapatkan daerah batas hitam.
    5. Untuk menebalkan batas, pilih Filter > Other > Minimum, gunakan setting antara 1 sampai 3.
    6. Pilih Filter > Blur > Gaussian Blur, dan gunakan setting yang sama pada filter maximum diatas yaitu antara 1 sampai 3.
    7. Kembali ke palet layer dan aktifkan background.
    Menggunakan Edge Masking
    1. Buat duplikat layer background. Pilih Select > Load > Selection dan pilih klik menu pull down “Channel” > edge mask.
    2. Di bagian bawah palet layer klik button “Layer Mask” untuk merubah pilihan terseleksi ke layer mask. Sebelum melakukan pengurangan ‘noise’, yakinkan layer yang aktif adalah layer duplikat (bukan jadi bukan “layer mask” nya).
    3. Gunakan salah satu metode pengurangan noise yang telah dijelaskan sebelumnya. Setelah diamati, dapat dilihat bagaimana detail pinggir pohon tetap terjaga tanpa dipengaruhi dengan awan/ background yang dikurangi noise nya.

    Tulisan ini belum diselesaikan. Insya Allah akan diteruskan.

      Manajemen File Foto Digital

      Teknologi media penyimpan file digital yang pesat baik di sisi volume maupun sisi kecepatan transfer, berdampak pada para pengguna digital camera untuk menekan tombol shutter hampir tanpa batas. Tidak perduli foto dengan megapixel yang tinggi, ini akan selalu diikuti dengan ‘penyesuaian’ harga media penyimpan di pasaran. Mungkin saja, kita tidak menghasilkan frame foto sampai ribuan per tahunnya, tetap saja pekerjaan mencari file foto yang diinginkan sangat lama dan menjengkelkan. Hal ini disebabkan pada awalnya kita tidak melakukan organisasi dan manajemen pada file-file tersebut; sampai saat inipun saya masih terus melakukan PR untuk me ‘manage’ kembali file-file saya yang terdahulu; mungkin agak melelahkan tapi hal ini akan menghemat waktu dan menguntungkan saya.

      Ada beberapa tahapan dalam proses ini, tahapan ini bisa dilakukan secara bersamaan atau satu persatu dilakukan darimana saja, tapi tentu saja semua tergantung dari kebutuhan proyek fotografi yang sedang anda kerjakan. Didalam tulisan ini, saya akan sedikit berbagi pengalaman dengan apa yang saya lakukan dalam suatu proyek kecil, yaitu hunting landscape danau dekat rumah. Beberapa tahapan tersebut adalah:

      • Importing
      • Batch Renaming
      • Rating & Labelling
      • Keywords
      • Importing – Sebenarnya tahap pertama ini adalah tahap yang paling beresiko tinggi, karena sebelum dilakukan tahap ini, data digital foto yang asli hanya tersimpan pada satu media yaitu memory card. Banyak software untuk melakukan proses ‘importing’ ini, ada yang menyediakan proses secara otomatis ke folder hard drive komputer; jenis software ini baik untuk para pengguna yang suka melakukan perjalanan dan kurangnya media penyimpan – agar proses import dilakukan dengan cepat dan aman. Beberapa software lainnya, menyediakan proses ini dengan customize tertentu, misalnya pemakaian catatan ‘copyright’, ‘data photographer’ dalam data Exif ataupun penamaan kembali file tujuan. Pilihan lain yang lebih baik yaitu dengan USB external hard drive, dengan media penyimpan ini anda dapat langsung melakukan import dari memory card dengan menggunakan melalui personal computer. Hal lain yang perlu dilakukan jika kita dalam melakukan perjalanan, agar laptop / computer diletakkan di dalam tas yang terpisah dengan media penyimpan (hard drive, memory card) – sehingga jika memang laptop / computer hilang atau dicuri, maka masih ada file digital foto yang selamat di dalam media penyimpan. Janganlah mem ‘format’ memory card camera! Sebelum file digital sudah di import di dua tempat misalnya di computer dan USB external hard drive, atau CD/DVD dan hard drive.
          • Batch Renaming – Batch renaming adalah satu perintah singkat dalam software yang disediakan pada untuk merubah nama file digital sesuai dengan keinginan dan pilihan sendiri. Fasilitas ini disediakan karena nama asli file digital dari kamera dianggap kurang memadai dan kurang memberikan arti dari sisi digital photography; biasanya berbentuk singkatan huruf diikuti dengan urutan nomor urut foto yang sudah dibuat, misalnya: DSC_0012.JPG. Untuk melakukan ‘batch renaming’ ini; walaupun contoh disini menggunakan software CaptureNX2, tetapi pada dasarnya sama saja. Setelah memilih file beberapa file foto yang akan dirubah, klik ke menu batch renaming; kotak dialog box pertama berguna untuk memasukkan pilihan nama file yang diinginkan. Untuk merubah nama file digital, saya biasanya mulai dengan singkatan nama saya diikuti dengan tahun, bulan, tanggal foto dibuat, yang terakhir diikuti dengan nomor urut foto. Misalnya: sad_20100116_003.JPG.
            • Rating & Labelling – Tahap berikutnya setelah ‘renaming’ (penamaan ulang) file yaitu memilah dan memberi catatan kecil setiap foto dari yang terbaik, cukup, sedang dan seterusnya sampai dengan memilih mana yang memang harus dibuang. Pemberian peringkat ini, biasanya dengan memberikan tanda bintang, semakin jumlah bintang nya banyak, maka kualitas fotonya semakin baik. Memang hal ini akan memakan waktu, tapi akan berguna, menyingkat waktu dan memudahkan saat anda mencari file foto anda di waktu mendatang. Dengan membatasi foto-foto tersebut, maka foto-foto yang mempunyai yang mempunyai bintang tiga sampai dengan bintang lima yang akan menjadi prioritas utama anda. Saat menggunakan keterangan / label, kita dapat juga memberi warna misalnya warna merah yg memang pasti untuk dibuang / dihapus; walaupun proses penghapusan ini seharusnya dilakukan setelah kita kembali mengevaluasi setelah melihat kumpulan beberapa foto yang akan dibuang. Foto-foto yang tidak diberi bintang; namun tidak dibuang biasanya merupakan foto-foto yang membutuhkan evaluasi dan perbaikan untuk nantinya.
            • Keywords – Keywords adalah kata kunci yang dapat dimasukkan pada file foto anda dan ini berguna untuk menemukan foto-foto lebih cepat lagi dan sifatnya lebih khusus lagi. Misalnya saja: “Museum”, “Jembatan”, “Kabut”. Sehingga ingin mencari foto-foto dengan tema keyword – misalnya “Museum” maka proses pencarian foto-foto akan segera menampilkan foto-foto anda yg sudah diberik keyword “Museum” tersebut.

              Proses manajemen file ini memang akan membutuhkan waktu, tapi hal ini akan mempersingkat waktu pengolahan dan pencarian file foto digital. Selain berguna untuk mengontrol koleksi foto kita, lagipula, kita akan semakin nyaman dalam mengolah file foto digital kita.


              Semoga bermanfaat.
              Sad Agus

              Apa Itu Histogram pada digital Photo?

              Histogram

              Pertama lihat display histrogram, saya cenderung tidak perduli (cuek aja), toh… saya pikir foto yang saya jepret sudah kelihatan bagus. Histogram display ini biasanya dapat kita lihat di menu preview option di menu digital camera. Lama-kelamaan, saya sempat penasaran dengan histogram ini. Apa sebenernya sih histogram dari setiap photo image yang kita hasilkan? Informasi apa yang kita dapat dengan histogram ini? Terus gimana cara mengontrol nya? Mulailah saya baca-baca buku yang dulu pernah saya lewatkan, ternyata histogram ini sangat penting bagi kita untuk mengevaluasi dan menganalisa setiap hasil foto kita – yaitu melihat tingkat exposure dari bidikan kita. Paling tidak untuk Landscape photography dan ini dapat kita lakukan persis kita setelah men’jepret’ nya di lokasi pemotretan. Histogram sebenernya adalah suatu bentuk grafik sederhana yang menunjukkan nilai ‘tonal’ yang tersebar dalam suatu foto (lihat gambar histogram).

              Dibagian paling kiri adalah nilai tonal ‘hitam’ tanpa detail (level 0 – nol), sedangkan di sebelah ujung kanan adalah total nilai tonal ‘putih’ tanpa detil (level 255). Tidak ada bentuk histogram yang dapat menjadi patokan, karena setiap foto mempunyai elemen dan tujuan yang berbeda-beda dan mempunyai susunan nilai ‘shadow’, ‘midtone’ dan ‘highlight’ tersendiri. Misalnya saja foto yang gelap, misalnya foto yang diambil malam hari, maka histogram nya akan lebih banyak mengelompok di sebelah kiri, sebaliknya foto-foto yang diambil siang hari, maka kurva histogram nya akan mengumpul di sebelah kanan.

              Kontrol Histogram

              Untuk mengontrol bentuk pola histogram dengan tujuan untuk menghasilkan foto yang optimal exposure nya ada tiga (3) hal penting yang menjadi pertimbangan yaitu –
              (1) Clipping, untuk mencegah daerah ‘highlight’ (daerah terang sebelah kanan) dan daerah ‘shadow’ (daerah gelap sebelah kiri) terpotong (‘clipping’); hal ini untuk meyakinkan foto tidak ‘over’ exposure’ atau ‘under’ exposure – khususnya di sebelah sisi kanan histogram. (2) Tonal detail di kanan kiri terekam dg baik. (3) Raw Files, hal ini perlu menjadi pertimbangan untuk mendapatkan informasi yg sebanyak-banyak nya dari hasil foto yang dihasilkan yaitu pada format ‘asli’ nya (raw file).

              Apapun metode yang digunakan, yang terpenting adalah memahami exposure digital camera yang baik adalah merekam cahaya dan menempatkan harga kurva tonal histogram yang tepat pada subyek yang gelap maupun terang, sehingga mempunyai keleluasaan dan fleksibilitas untuk mencapai tujuan yaitu membuat foto yang baik.

              1. Clipping Control -Untuk mendapatkan hasil foto dengan exposure yang tepat, adalah dengan melihat dan meyakinkan bahwa tidak ada tonal ‘terang’ (highlight) maupun tonal ‘gelap’ (shadow) yang terpotong / terpancung, atau dengan kata lain grafik histogram yang dihasilkan mempunyai bentuk kurva dari kiri ke kanan yang bentuk kurvanya tidak ‘berhenti’ tiba-tiba di ujung kanan dan kiri nya. Jika melihat hal ini, segera lakukan evaluasi apakah exposure nya harus dikurangi atau ditambah dengan melakukan setting exposure compensation di camera digital (+/-). Mengontrol ‘clipping’ ini cukup sulit, terutama untuk foto-foto di siang hari atau terang dengan kontras yang tinggi, inilah alasan lain mengapa penting mengambil dalam bentuk file ‘asli’ (raw) – sehingga dapat dilakukan perubahan yang mendasar nantinya. Yang terpenting foto anda terlalu ‘terang’ tapi masih dapat melihat detil bagian gelapnya. Walaupun hal ini dapat dilakukan dengan perangkat lunak photoshop, tapi yang terpenting adalah bagaimana mengambil foto aslinya dengan exposure yang tepat dan baik, yang akan menghasilkan foto lebih baik lagi.
              2. Tonal detil dan baik – Dengan terus melakukan latihan dan kebiasaan melakukan evaluasi histogram setiap kita mengambil foto, maka perubahan atau menyunting yang rumit akibat kesalahan exposure akan dapat dikurangi dan hal ini akan jauh akan banyak menghemat waktu anda. Terlalu terangnya daerah gelap dari suatu foto yang underexposured akan memperlihatkan celah besar histogram (exessive gap) dan anda perlu melakukan perubahan tonal level yang lebih halus. Terkadang kita harus melakukan pengurangan ‘noise’ di photoshop untuk dan mungkin saja kita sudah mahir melakukan hal ini, tapi tentu saja hasilnya tidak akan sebaik dengan foto yang sudah sempurna tanpa noise. Teknik yang baik adalah sebisa mungkin menghindari noise dengan menghasilkan foto dengan exposure yang tepat. Tentu saja, hal ini tidak selamanya dapat dilakukan, khususnya pada saat situasi gelap, tapi hal ini harus menjadi bahan pertimbangan.
              3. Raw files – Ketika sensor digital camera merekam cahaya dengan aperture tertentu (bukaan diafragma) dan setiap anda mengurangi satu kali stop bukaan diafragma, maka sensor akan mengurangi intensitas cahaya setengahnya, misalnya anda memakai f5.6 akan lebih terang dibanding anda memakai f8. Mungkin sudah pernah mendengar, lebih baik mengambil foto yang underexposured untuk mengurangi resiko daerah terang menjadi ‘terbakar’, karena jika daerah ‘highlight’ (terang) sudah ‘terbakar’ yaitu dimana sudah menjadi total terang (putih semua), maka daerah ini tidak akan bisa dilakukan perbaikan lagi saat anda melakukan perbaikan raw file (raw file processing).Sebaiknya suatu hasil foto usahakan untuk menghasilkan data histogram yang jauh ke kanan tanpa terpancung (non clipping), gunakan metode berikut, tambahkan kompensasi exposure 1 atau 2 stop, foto mungkin akan terlihat terang di LCD screen kamera, tapi hal ini akan mudah dirubah saat proses konversi raw file tanpa menimbulkan efek samping seperti saat menerangkan daerah gelap pada hasil foto yang ‘underexposured’. Metode ini sangat jitu untuk foto landscape photography, dimana dapat dilakukan juga dengan mode manual dan mengurangi shutter speed atau menambah aperture bukaan diafragma.

              Salam,
              Sad Agus



              Persiapan Sesi Foto Landscape

              Tinjauan Lokasi dan Waktu  
              Jika mendengar landscape photography, yang terbayang didalam pikiran kita adalah suatu foto pemandangan yang indah yang tentunya salah satu foto jenis ‘outdoor’ yang diambil tidak didalam studio; sehingga sebelum melakukan perjalanan untuk suatu sesi pengambilan foto landscape ada baiknya kita melakukan penelitian tempat-tempat yang akan dikunjungi. Penelitian (kata umum biasanya ‘survey’) pendahuluan ini perlu dilakukan guna efektifitas dan tujuan yang tepat – apalagi jika tempat tersebut belum pernah kita kunjungi. Saya coba praktekan hal ini, ternyata memang benar-benar ampuh; walaupun tempat nya dekat dan belum kita ketahui.

              Penelitian lokasi ini, bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan melihat peta yang tersedia, informasi dari beberapa kolega dan media informasi lainnya. Yang paling jitu dan cepat adalah melalui internet, anda bisa menggunakan email untuk bertanya kepada beberapa rekan yang pernah berkunjung ke lokasi tersebut, atau ‘searching’ melalui mesin pencari internet misalnya: google atau yahoo, bahkan dapat juga menggunakan Google Earth atau Google Map, yaitu peta bola bumi sehingga dapat melihat cukup detil tempat tersebut, seperti route jalan yang akan ditempuh, sungai atau pantai yang kelihatan dapat menjadi spot pengambilan. Beberapa tempat disekitar Jakarta dan Jawa Barat yang banyak dikunjungi oleh rekan-rekan komunitas fotografer di Indonesia, antara lain: kota tua dan pelabuhan sunda kelapa – Jakarta, daerah Serpong – Tangerang, Ujung Genteng di Sukabumi, pelabuhan Ratu, Jawa Barat dan Ciwidey di Bandung Selatan dan banyak lagi. Dari beberapa pendapat rekan senior fotografer, hanya Pulau Bali lah yang paling komplit, ada pegunungan, pantai, budaya dan tempat – tempat ibadah yang dapat dijadikan sesi ‘hunting’ foto yang menarik. Setelah paham betul, mengenai lokasi rencanakan route perjalanan anda, tentukan titik-titik pemberhentian yang diperkirakan menarik dan baik untuk pengambilan foto landscape; hal ini tidak perlu anda lakukan jika anda ikut bersama dalam acara ‘hunting’ foto bersama komunitas atau kelompok; yang biasanya sudah ada penunjuk atau ketua kelompok yang membimbing. Selang waktu yang tepat untuk bepergian sesi sebaiknya di musim panas. Di Indonesia biasanya dari bulan Maret sampai September. Saat rentang waktu ini, intensitas sinar matahari cukup kuat dan baik ditangkap sensor kamera digital atau film. 
              Peralatan






              • Kamera – bisa berupa kamera digital atau film. Para fotografer professional atau amatir serius seringkali membawa lebih dari satu kamera, kamera utama dan kamera cadangan atau juga kamera rubahan infra merah (Digital Camera Infra Red Converted). Maraknya kamera digital di era teknologi, menyebabkan sudah banyak orang meninggalkan kamera film; dengan harga 5 jutaan sudah bisa menghasilkan foto digital resolusi 10 Megapixel. Yang lazim digunakan oleh para penggemar fotografi landscape adalah jenis kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect); dimana lensa nya dapat diganti setiap saat sesuai keperluan. Beberapa kajian (review) untuk kamera digital yang cukup diminati dan berguna adalah situs Digital Photography Review.
              • Lensa – Untuk landscape photography biasanya jenis lensa ‘wide-angle’ yang diperlukan; karena lensa ini mempunyai cakupan luas, baik yang fixed atau yang zoom. Jika fixed, dianjurkan untuk membawa cadangan lensa ukuran normal range (35mm atau 50mm).
              • Filter– Filter ND (natural density) atau Gradual ND berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya saat pengambilan gambar – sehingga DOF (Depth of Field) bisa maksimal. Filter Polarizer berguna untuk men’dalam’kan warna, misalnya warna langit dapat menjadi lebih biru, daun lebih hijau; filter ini juga dapat tembus pandang obyek dibawah air. Sedangkan untuk menghasilkan foto landscape Infra Red, Infra Red filter banyak tersedia di pasaran, seperti merek Hoya (R72) dan Cokin (P007), harga filter ini biasanya lebih mahal dari filter-filter jenis lain.
              • Tripod – Alat tambahan fotografi ini sangat dianjurkan, karena hampir semua foto landscape yang baik dihasilkan dengan menggunakan tripod. Ingat: foto under exposure atau over exposure masih bisa diperbaiki dengan cara bracketing atau dengan perangkat lunak pengolah foto, tetapi foto yang ‘blur’ sangat sulit dan hamper mustahil diperbaiki.
              • Cable release – Alat tambahan ini berfungsi untuk mengurangi jika ada guncangan kecil (micro shake) saat anda menekan shutter, akan sangat bermanfaat jika shutter speed yang rendah.
              • Memory Card & Battery Cadangan – Untuk menjaga kehabisan media penyimpanan dan tenaga bagi kamera digital anda selama sesi pengambilan berlangsung; tidak jarang ada fotografer yang harus pulang atau berhenti jepret karena kehabisan dua benda yg ‘kecil tapi penting’ ini.
              • Tas Kamera – Jenis back pack banyak disukai untuk perjalanan fotografi landscape dengan berbagai alasan, misalnya mudah membawanya, muat banyak, biasanya tersedia ‘selimut anti hujan’ dan kait tripod.

              Jangan lupa anda harus bangun awal pagi untuk melakukan sesi pengambilan foto landscape, jika perlu set alarm anda untuk menghindari kehilangan momen ‘golden hours’ atau ‘blue hours’, sunrise. Tidak semua kita mendapatkan bakat sebagai hadiah dari Tuhan untuk menghasilkan foto yang baik kecuali dengan melakukan latihan dan persiapan yang baik. Salam jepret,  Sad Agus at my official website