Liburan ke Lombok

“Lombok”
Pantai Mawun

Rencana liburan ke Lombok bersama keluarga sebetulnya sudah direncanakan mungkin sudah lebih dari lima tahun sebelumnya, namun banyak sekali kendala saat berjalannya waktu, entah itu dari saya sendiri maupun dari anak dan istri. Bulan lalu, saya tekadkan untuk betul untuk berangkat ke bagian Indonesia yang indah itu, dengan memesan tiket dan kamar hotel. Pemesanan semua berjalan lancar, apalagi sekarang sudah dimudahkan dengan adanya teknologi informasi, semua serba online, dari mulai berangkat, taxi, penerbangan dan hotel.

Kami berangkat dari Jogja dan terbang langsung ke Bandara International Lombok, rencana hari pertama tiba malam, kami menginap di kota Mataram; sambil mencari penyewaan mobil untuk dua hari kedepan. Dengan dibantu petugas hotel di Mataram, maka kami akhirnya mendapatkan mobil Toyota Avanza + sopir nya – Pak Aris namanya, beliau sangat ramah dan bersedia mengantarkan kemana saja, cara menyetirnyapun cukup hati2 dan nyaman.

Hari ke-1

Keesokan harinya, pagi setelah sarapan, kami berangkat dari kota Mataram menjalani rencana route pertama kami, yaitu Desa Sade, Pantai Kuta, Bukit Marese, Batu Payung, Hotel di Kuta, Lombok Tengah. Kondisi jalan di Pulau Lombok relatif bagus, namun memang pada saat itu ada beberapa ruas jalan yang perlu diperbaiki. Singkat nya kami langsung menuju Desa Sade, desa asli dimana suku Sasak masih memelihara budaya dan tradisi nya. Sebelum sampai ke Desa Sasak kami mampir di Desa tenun songket, di tempat ini kami diperlihatkan cara menenun kain songket secara tradisional, sekaligus ada tempat penjualan produk-produk kainnya. Di toko setempat tersebut, disediakan juga tempat berfoto, dimana ada bangunan rumah asli suku Sasak, malahan juga disediakan pakaian adat yang bisa disewa untuk berfoto, namun kami tidak menggunakannya.

Yang menarik kami adalah cara mereka menikah yaitu Kawin “lari” dan Kawin “culik”.

Setelah cukup mengunjungi Desa Tenun, segera kamu meluncur ke Desa Sade yaitu Desa suku Sasak tinggal. Desa Sasak berada dipinggir jalan utama disana disediakan tempat parkir dan harga tiket masuk bersifat sukarela, hanya disediakan kotak kayu sumbangan. Sampai disana, sudah ada satu orang “guide” turis yang langsung menghampiri, langsung bercerita apa itu Suku Sasak dan bagaimana tradisi, adat istiadat. Yang menarik kami adalah cara mereka menikah yaitu Kawin “lari” dan Kawin “culik”. Kawin “lari” diartikan bahwa dimana kedua pihak saling menyukai dan kemudian menikah, sedangkan kawin “culik” diartikan dimana pihak pria yang menyukai pihak wanita, sedangkan pihak wanita “tidak menyukai”; diteruskan ke jenjang pernikahan.

“Sasak”
Suku Sasak

Pada hari yg sama, perjalanan diteruskan untuk “check in” di hotel sekitar Kuta dan makan siang. Pantai Kuta Lombok masih dalam proses renovasi, sehingga kami memutuskan untuk tidak turun. Melanjutkan ke Pantai seger dan Bukit Marese, kedua pantai ini menunjukkan khas bentuk pantai di Lombok Tengah, yaitu pantai dengan air yang jernih, landai dan dibatasi oleh bukit-bukit berlereng “halus” cembung. Di Bukit Marese, sebetulnya pemandangan sunset disini sangatlah indah, namun karena kami sudah cukup capek maka kami tidak naik ke puncak bukit, setelah memotret pemandangan yaitu menggunakan kamera DSLR dan kamera “aerial” drone. Pelajaran dan pengalaman memotret dan mengambil video disini, yaitu saya tidak memakai filter ND, melainkan hanya filter GND saja sehingga hasil fotonya menurut saya kurang maksimal dan belum sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Begitu pulan foto-foto dan video “aerial”, ada beberapa gerakan yang masih kurang bersifat “cinematic”.

“Pantai
Pantai Seger

Hari ke-2

Di hari kedua, mulai dari pagi kami berangkat mengikuti jalur Pantai Mawun, rencana semula adalah mengunjungi Pantai Mawi, tapi pak Aris menganjurkan ke Pantai Selong Belanak. Sesampai di Pantai Selong Belanak, kami disajikan dengan pantai yang indah ombak yang cukup besar, berbentuk melengkung dimana disisi kanan – kirinya dibatasi oleh bukit-bukit curam. Pantai ini terkenal sebagai tempat belajar “surfing” bagi turis-turis, jadi tidak heran jika banyak penduduk lokal yang menyewakan papan seluncur, disertai arahan dari penduduk lokal, yang kebanyakan sudah cukup mahir dalam bermain selancar. Ciri khas pantai ini selain sebagai tempat bermain surfing, sering kali melintas kawanan kerbau saat pagi dan saat sore hari, sepertinya kawanan kerbau ini memang sengaja melintas, agar menarik perhatian para turis. Saya membuat beberapa bidikan foto udara di pantai ini.Selain memotret landscape, saya juga menerbangkan drone untuk membuat rekaman video udara (aerial footage). Saya berjumpa dengan salah satu orang pengguna drone, kira-kira seumur dengan saya. Beliau banyak memberikan masukan, bagaimana menerbangkan drone dan memberikan semangat.

Setelah cukup lama di Pantai Selong Belanak, kami meluncur Pantai Mawi. Tapi kondisi jalan yang tidak memungkinkan, membuat kami mengurungkan niat kami pergi ke Pantai Mawi, maka kita memutuskan ke Pantai Mawun. Di tengah perjalanan, saya sempatkan untuk berbelok ke Pantai Jagog Luar, pantai ini sepi sekali. Saya tertarik melihat satu pulau kecil berjarak lebih kurang 1.5 Km dari saya berdiri, sayang sekali saat saya membuat rekaman video udara pulau ini; tanpa saya sadari memory card di pesawat drone saya sudah penuh setelah satu clip video saat mencapai pulau kecil itu. Singkat kata, kami meluncur ke Pantai Mawun, di pantai Mawun kami disuguhi banyaknya kapal-kapal nelayan dan air pantai yang sangat jernih, sampai terlihat dasar karang-karang yg berwarna kuning, coklat dengan air yg biru kehijauan sampai biru gelap. Ciri khas pantai ini selain sebagai tempat bermain surfing, sering kali melintas kawanan kerbau saat pagi dan saat sore hari, sepertinya kawanan kerbau ini memang sengaja melintas, agar menarik perhatian para turis. Saya membuat beberapa bidikan foto udara di pantai ini.

“Selong
Pantai Selong Belanak

Hari ke-3 pulang

Semalam sebelum pulang, saya sudah memesan hotel untuk menyewa Taxi untuk menunjuk Bandara International Lombok. Kami pagi-pagi pukul 4 sudah meninggalkan hotel. Maskapai penerbangan yang kami gunakan adalah maskapai “L**N Air” adalah maskapai yang memang biasa telat dan molor, saya juga mencegah hal yang tidak diinginkan dengan meletakkan semua barang berharga di tas kabin; sedangkan tas koper yang masuk bagasi cukup barang-barang pribadi yang tidak penting.

Klik disini  ~ untuk melihat route perjalanan kami.

Itulah sekelumit cerita tentang perjalanan liburan keluarga kami ke Lombok, yang sempat tertunda beberapa tahun. Saya merencanakan kembali ke Lombok, untuk mengambil foto-foto bentang alam saat sunset / sunrise. Mungkin ditambah dengan pengambilan foto / video udara.

Sad Agus, Ambar, Ajeng, Dimas

http://sadagus.com ~ Agustus 2017