Kekurangan para “Pemula”

Membaca
Membaca

Tanpa merendahkan kawan2 yg masih pemula, sebaliknya saya ingin berbagi beberapa hal yg mungkin bisa hindari agar hasil jepretan kawan2 lebih baik. Dalam tulisan ini, saya coba utk melihat baik kekurangan dan kesalahan dari kebanyakan kita (termasuk saya) dalam fotografi, antara lain:


1. Ingin INSTANT dan MALAS MEMBACA: foto yg baik adalah hasil dari proses belajar yg panjang dan kerja keras, bukan dari hasil puluhan atau ratusan bidikan saja. Bukan saja banyak latihan, tapi juga harus rajin membaca dan update teknologi terkini. Proses yg dipahami sampai semua nya benar-benar menjadi reflek tubuh kita saat menerapkan nya. Misal: focusing, hyperfocal distance, lighting, photography rule, mirrorless, bounce, dll.

2. TERBURU POSTING: memposting foto memang perlu, tujuannya agar mendapat masukan dan koreksi dari kawan lain sehingga foto kita setelahnya bisa lebih baik , BUKAN ingin “like” yg banyak, karena “like” banyak tidak akan menambah baik foto kita. Karena tujuan nya hanya “like” inilah, banyak yg terburu posting tanpa melihat unsur etika, teknis dan kepentingan tujuannya. Kunci posting foto adalah usahakan foto TERBAIK kamu yg kemarin, dan jangan memposting hasil foto di hari yg sama.

3. G2- GILA GEAR: terlalu banyak membaca review peralatan fotografi, padahal tidak/belum punya, parahnya tidak paham dan tidak maksimal menggunakan peralatan yg dimiliki sendiri. Belajar fotografi bukan berarti melulu belajar peralatannya, sampai lupa ilmu dasar fotografi, seperti exposure, ISO, white balance, aperture dan dampaknya terhadap foto.

4. HARAM POST PROCESSING: sering mendapat pertanyaan: “Ini fotonya asli?” ~ maksudnya si penanya apakah sudah di edit / post processing, dan masih banyak para pemula menganggap bahwa post processing adalah bukan fotografi tulen ~ pandangan ini menurut saya adalah SALAH. Karena fotografi digital /modern adalah suatu rangkaian proses PLANNNING, EXECUTION DAN POST PROCESSING. Dulu post processing dilakukan di kamar gelap, saat ini era digital dg hardware dan software, tentu saja post processing dari hasil mentah (RAW) yg baik.

Text
Gila Gear

5. OVER PROCESSED: nah yg ini adalah kebalikan diatas, hasil asli bidikan langsung dari kamera yg dirasakan kurang sempurna ataupun salah, selayaknya diulangi saat itu juga. Jangan pernah berpikir “nanti gampang diedit”, post processing bukanlah alat untuk memperbaiki kesalahan pemotretan. Banyak contoh kasus ini, misalnya horizon yg tidak lurus, tidak fokus, white balance yg tidak sesuai, lighting salah arah, dll. Over processed yg sering terjadi antara lain:

  • CROPPING KETAT, karena terlalu banyak bagian yang di crop, maka akan banyak menurunkan resolusi, akibatnya kualitas foto berpiksel dan tidak tajam. Bahkan bisa jadi malah meperburuk komposisi, tanpa mempertimbangkan rule “empty space”, “rule of third”, “point of interest”.
  • OVEREXPOSED: karena ingin menambah terang daerah shadow, exposure dinaikan sampai highlight nya “blown out” tidak terlihat detailnya. Gunakan GND filter jika foto bentang alam, gunakan flash untuk foto indoor. Koreksi saat memotret jauh lebih baik, dibanding saat post processing. Selalu membaca histogram kamera, jika ragu.
  • OVER SATURATED, ini banyak terjadi dari foto2 bentang alam atau HDR, yaitu penyiksaan warna foto yg malah tidak natural. Sebaiknya biarkan warna menjadi natural, jika ingin menambah kedalaman warna, gunakan filter CPL saat memotret.
  • OVER SHARPENING: ketajaman foto tergantung jenis lensa, aperture yg digunakan, kestabilan kamera saat memotret. Sebetulnya cara mudah untuk mengetahui setelah memotret yaitu dengan melihat hasil di layar LCD kamera dengan perbesaran (zoom) 100%. Metode Sharpening pada post processing sangatlah bervariasi, yg terbaik dengan metode “blending” dari tumpukan layer.
  • POSTERIZED: adalah tonal dan tekstur foto yang terlalu banyak “artifact” dan seperti gambar kartun, hal ini karena “denoise” atau “noise reduce” tinggi pada foto resolusi rendah.
  • COMPLEX FRAME: framing yg rumit dan mencolok bisa menutupi keindahan fotonya sendiri, maka buatlah frame yang sederhana. Baik nature frame atau post frame.

Semoga bermanfaat, seperti biasanya… jika ada yang ingin menambahkan atau perlu dikoreksi, silahkan tambahkan di komentar.

Salam dari Jogja dan selamat berpuasa,

Sad Agus Photography, ©Copyright 1017.

http://sadagus.com