Kenapa foto saya tidak bagus?

SAP_4755_small
Pantai Krakal, EXIF: 1.6″, f/11, ISO100, 16mm, RAW single shot on tripod.

Semua pernah mengalami saat kebanyakan hasil bidikan nya dirasa tidak bagus atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini banyak disebabkan oleh sang fotografer, sedikit sekali sebuah foto kurang baik disebabkan oleh faktor peralatan. Continue reading “Kenapa foto saya tidak bagus?”

Setting Kamera Digital untuk Foto Hitam Putih

Setting Kamera BW
Setting Kamera Digital

Sebelum berbicara setting kamera digital, mohon kawan-kawan membuka kembali buku petunjuk (manual) kamera masing-masing. Karena setting kamera yang akan dijelaskan akan SANGAT TERGANTUNG pada pengetahuan bagaimana merubah setting pada kamera masing-masing. Continue reading “Setting Kamera Digital untuk Foto Hitam Putih”

Haida 150mm Filter System

Haida filter
Haida Filter

Sistim Filter Haida 150mm

Haida 150mm filter system adalah satu sistem yang dibuat oleh Haida Company, satu perusahaan yang berlokasi di Ningbo, Cina, sistem ini dibuat untuk menyediakan beberapa lensa ultra wide, seperti Nikon 14-24mm f/2.8, Sigma 20mm f/1.4, Tamron 15-30mm f/2.8, Canon 11-24mm 4L USM, Nikon 14mm f/2.8D, dimana lensa itu semua tidak mempunyai ulir filter konvensional dibagian depan nya.

Continue reading “Haida 150mm Filter System”

Apa Itu Histogram pada digital Photo?

Histogram

Pertama lihat display histrogram, saya cenderung tidak perduli (cuek aja), toh… saya pikir foto yang saya jepret sudah kelihatan bagus. Histogram display ini biasanya dapat kita lihat di menu preview option di menu digital camera. Lama-kelamaan, saya sempat penasaran dengan histogram ini. Apa sebenernya sih histogram dari setiap photo image yang kita hasilkan? Informasi apa yang kita dapat dengan histogram ini? Terus gimana cara mengontrol nya? Mulailah saya baca-baca buku yang dulu pernah saya lewatkan, ternyata histogram ini sangat penting bagi kita untuk mengevaluasi dan menganalisa setiap hasil foto kita – yaitu melihat tingkat exposure dari bidikan kita. Paling tidak untuk Landscape photography dan ini dapat kita lakukan persis kita setelah men’jepret’ nya di lokasi pemotretan.┬áHistogram sebenernya adalah suatu bentuk grafik sederhana yang menunjukkan nilai ‘tonal’ yang tersebar dalam suatu foto (lihat gambar histogram).

Dibagian paling kiri adalah nilai tonal ‘hitam’ tanpa detail (level 0 – nol), sedangkan di sebelah ujung kanan adalah total nilai tonal ‘putih’ tanpa detil (level 255). Tidak ada bentuk histogram yang dapat menjadi patokan, karena setiap foto mempunyai elemen dan tujuan yang berbeda-beda dan mempunyai susunan nilai ‘shadow’, ‘midtone’ dan ‘highlight’ tersendiri. Misalnya saja foto yang gelap, misalnya foto yang diambil malam hari, maka histogram nya akan lebih banyak mengelompok di sebelah kiri, sebaliknya foto-foto yang diambil siang hari, maka kurva histogram nya akan mengumpul di sebelah kanan.

Kontrol Histogram

Untuk mengontrol bentuk pola histogram dengan tujuan untuk menghasilkan foto yang optimal exposure nya ada tiga (3) hal penting yang menjadi pertimbangan yaitu –
(1) Clipping, untuk mencegah daerah ‘highlight’ (daerah terang sebelah kanan) dan daerah ‘shadow’ (daerah gelap sebelah kiri) terpotong (‘clipping’); hal ini untuk meyakinkan foto tidak ‘over’ exposure’ atau ‘under’ exposure – khususnya di sebelah sisi kanan histogram. (2) Tonal detail di kanan kiri terekam dg baik. (3) Raw Files, hal ini perlu menjadi pertimbangan untuk mendapatkan informasi yg sebanyak-banyak nya dari hasil foto yang dihasilkan yaitu pada format ‘asli’ nya (raw file).

Apapun metode yang digunakan, yang terpenting adalah memahami exposure digital camera yang baik adalah merekam cahaya dan menempatkan harga kurva tonal histogram yang tepat pada subyek yang gelap maupun terang, sehingga mempunyai keleluasaan dan fleksibilitas untuk mencapai tujuan yaitu membuat foto yang baik.

  1. Clipping Control -Untuk mendapatkan hasil foto dengan exposure yang tepat, adalah dengan melihat dan meyakinkan bahwa tidak ada tonal ‘terang’ (highlight) maupun tonal ‘gelap’ (shadow) yang terpotong / terpancung, atau dengan kata lain grafik histogram yang dihasilkan mempunyai bentuk kurva dari kiri ke kanan yang bentuk kurvanya tidak ‘berhenti’ tiba-tiba di ujung kanan dan kiri nya. Jika melihat hal ini, segera lakukan evaluasi apakah exposure nya harus dikurangi atau ditambah dengan melakukan setting exposure compensation di camera digital (+/-). Mengontrol ‘clipping’ ini cukup sulit, terutama untuk foto-foto di siang hari atau terang dengan kontras yang tinggi, inilah alasan lain mengapa penting mengambil dalam bentuk file ‘asli’ (raw) – sehingga dapat dilakukan perubahan yang mendasar nantinya. Yang terpenting foto anda terlalu ‘terang’ tapi masih dapat melihat detil bagian gelapnya. Walaupun hal ini dapat dilakukan dengan perangkat lunak photoshop, tapi yang terpenting adalah bagaimana mengambil foto aslinya dengan exposure yang tepat dan baik, yang akan menghasilkan foto lebih baik lagi.
  2. Tonal detil dan baik – Dengan terus melakukan latihan dan kebiasaan melakukan evaluasi histogram setiap kita mengambil foto, maka perubahan atau menyunting yang rumit akibat kesalahan exposure akan dapat dikurangi dan hal ini akan jauh akan banyak menghemat waktu anda. Terlalu terangnya daerah gelap dari suatu foto yang underexposured akan memperlihatkan celah besar histogram (exessive gap) dan anda perlu melakukan perubahan tonal level yang lebih halus. Terkadang kita harus melakukan pengurangan ‘noise’ di photoshop untuk dan mungkin saja kita sudah mahir melakukan hal ini, tapi tentu saja hasilnya tidak akan sebaik dengan foto yang sudah sempurna tanpa noise. Teknik yang baik adalah sebisa mungkin menghindari noise dengan menghasilkan foto dengan exposure yang tepat. Tentu saja, hal ini tidak selamanya dapat dilakukan, khususnya pada saat situasi gelap, tapi hal ini harus menjadi bahan pertimbangan.
  3. Raw files – Ketika sensor digital camera merekam cahaya dengan aperture tertentu (bukaan diafragma) dan setiap anda mengurangi satu kali stop bukaan diafragma, maka sensor akan mengurangi intensitas cahaya setengahnya, misalnya anda memakai f5.6 akan lebih terang dibanding anda memakai f8. Mungkin sudah pernah mendengar, lebih baik mengambil foto yang underexposured untuk mengurangi resiko daerah terang menjadi ‘terbakar’, karena jika daerah ‘highlight’ (terang) sudah ‘terbakar’ yaitu dimana sudah menjadi total terang (putih semua), maka daerah ini tidak akan bisa dilakukan perbaikan lagi saat anda melakukan perbaikan raw file (raw file processing).Sebaiknya suatu hasil foto usahakan untuk menghasilkan data histogram yang jauh ke kanan tanpa terpancung (non clipping), gunakan metode berikut, tambahkan kompensasi exposure 1 atau 2 stop, foto mungkin akan terlihat terang di LCD screen kamera, tapi hal ini akan mudah dirubah saat proses konversi raw file tanpa menimbulkan efek samping seperti saat menerangkan daerah gelap pada hasil foto yang ‘underexposured’. Metode ini sangat jitu untuk foto landscape photography, dimana dapat dilakukan juga dengan mode manual dan mengurangi shutter speed atau menambah aperture bukaan diafragma.

Salam,
Sad Agus