Memahami WHITE BALANCE

White Balance
White Balance Button
Cahaya dan Warna

Fotografi adalah memahami cahaya, yang dimaksud disini bukanlah kualitas tapi lebih kearah warna apa yang dikeluarkan oleh sumber cahaya, warna cahaya ini biasa disebut “Color Temperatures”. Warna “sinar matahari siang” dianggap sebagai standard / patokan sebagai “Color Temperature” yang “Normal”. Warna cahaya lampu meja lebih “orange” atau “kemerahan” yang lebih dikenal dengan warna “lebih hangat” (Warmer) atau “Hot” (panas). Sedangkan lawannya, warna cahaya lebih “kebiruan” yang dikenal dengan warna “lebih dingin / teduh” (Cooler), misalnya lampu neon. Continue reading “Memahami WHITE BALANCE”

Color Contrast

duck face
Duck face

Salah satu elemen foto agar menarik dan bagus adalah memahami “color contrast”. Color contrast dalam suatu foto didasarkan pada “Color Circle Systems”. Sistem warna ini menunjukkan jika warna yang ‘berlawanan’ akan menunjukkan kontras yang tinggi, Hijau lawan nya Merah, Biru lawannya Orange, Kuning lawannya Purple (lihat gambar dibawah). Continue reading “Color Contrast”

SUNNY 16 RULE

SUNNY 16 RULE
Rule artinya aturan, kalau saya lebih cenderung menyebutnya “Rule of thumb” atau RUMUS PINTAR untuk patokan agar kita lebih mudah mengingat nya. Dalam fotografi di jaman orang masih menggunakan kamera analog (35mm film), sistem metering, focusing di kamera masih tidak secanggih saat ini. Maka beberapa orang yang “jeli” dan “tekun” mempelajari bagaimana memotret secara efektif agar EXPOSURE nya tepat di saat cuaca cerah (Sunny). Maka muncullah, rumus pintar Sunny 16 rule, yaitu penggunaan bukaan diafragma f/16 disaat cuaca cerah (sunny) yaitu dengan rumus SHUTTER SPEED = 1 / ISO. Penerapannya yaitu sebagai berikut, jika diluar cuaca cerah (sunny) dan kita ingin memotret maka yang perlu dimengerti adalah dengan setting kamera f/16 dan ISO 200, maka shutter speednya yang tepat adalah 1/200secs. Bagaimana jika cuaca berawan, mendung, sore hari, sunset, malam? Maka kita sudah tidak bisa menerapkan lagi “Sunny 16 Rule” lagi, dengan kata lain maka kita harus “melanggar” nya, tapi dengan terus menjaga agar exposure tetap normal, yaitu dengan ketentuan tabel dibawah.

Continue reading “SUNNY 16 RULE”

BERSAMA NIKON D800


Nikon D800

Awal tahun 2012, Nikon menandai tahun suksesnya dengan meluncurkan produk kamera DSLR barunya yaitu Nikon D800. Kamera ini banyak mengejutkan dan sekaligus memberikan kabar gembira bagi dunia fotografi, pasalnya kamera besutan perusahaan kamera raksasa ini, yg sejak merambah dunia digital; mengeluarkan Nikon D800 dengan spesifikasi 36 Megapixel, full frame dengan dilengkapi Videografi 1080p 30fps. Nikon sebagai Produsen Kamera DSLR kelas dunia, yang sejak dulu mempertahankan megapixel rendah dengan tetap menjaga IQ (Image Quality) tinggi dan noise yg rendah, agak nya mulai terbangun dan menyadari akan pentingnya jumlah pixel bagi para konsumer “High Quality Printing”, dan mampu masuk dalam posisi alternatif dari fotografi medium format; yg relatif harga kameranya masih tinggi sekali, utk saat ini bisa mencapai ratusan juta rupiah. Continue reading “BERSAMA NIKON D800”

AF Fisheye-Nikkor 16mm f/2.8D

lensa mata ikan
Pantai Klayar denga lensa FISHEYE

Sudah lama tertarik dengan foto panorama bentuk Fisheye, tapi baru kemarin aku beli lensa Fisheye dari Nikon ini nama resminya: “AF Fisheye-Nikkor 16mm f/2.8D”. Beli di toko kamera “Gudang Digital” Jogja, sebelumnya test dulu di toko, hasilnya luar biasa unik… sebelumnya juga pernah coba dengan fish eye merk Samyang 8mm f/2.8; sayang nya lensa ini jenis DX crop; jadi kalau untuk Nikon D3 ada vignette hitam disekeliling foto. Continue reading “AF Fisheye-Nikkor 16mm f/2.8D”

Digital Photography Cahaya Rendah

Pertama mencoba untuk ambil foto landscape, saya cukup tertarik pada fotografi landscape dg intensitas cahaya rendah (low light); karena saya menganggap nya mempunyai nuansa yg menarik dan mengejutkan. Terutama pada exposure dengan waktu yg panjang , seperti pada foto-foto landscape sunset di sore hari atau sunrise saat subuh / pagi hari.

Fotografi landscape dg intensitas cahaya rendah, menggunakan teknik fotografi yg sama dengan disiplin fotografi lainnya; dimana teknik dasar tetaplah harus diperhatikan yaitu perekaman cahaya pada sensor suatu kamera. Dengan pengertian tersebut, maka dapat kita mulai dengan penggunaan aperture (bukaan diafragma lensa) besar (f1.8- f2.0) akan mengakibatkan kecepatan shutter yg relative tinggi. Begitu pula pada penggunaan ISO yang tinggi maka makin sensitive sinar yang ditangkap oleh sensor. Dasar-dasar fotografi inilah, yang membawa pemahaman kita bahwa semakin rendah intensitas cahaya, semakin lama waktu exposure (slow speed shutter) yg dibutuhkan, sehingga pentingnya tripod – sebagai salah satu alat pendukung yang penting.

Untuk mendapatkan waktu exposure (shutter speed) yang panjang, maka kita membutuhkan bukaan diafragma atau aperture yang kecil (misalnya f22), semakin kecil aperture ini akan menambah “depth of field”. Sederhana bukan?! Hanya teknik dasar fotografi .
Menurut pemikiran saya dan berdasar pengalaman saya, fotografi dg intensitas cahaya rendah (low light digital photography) adalah mudah dan sesuatu yg menarik dalam memulai fotografi landscape. Dengan rendah nya kecepatan shutter maka anda dapat melakukan beberapa pengambilan foto yg menarik, misalnya efek garis sinar – sinar mobil di jalan raya dimalam hari, hujan meteor di angkasa, garis lengkung bintang-bintang dan banyak lagi.

From Blogger Pictures

Teknik Pengambilan Foto
Yang anda perlukan untuk menghasilkan fotografi intensitas rendah ini hanyalah sebuah kamera digital, tripod dan remote shutter / kabel; mungkin dg teknik menggunakan shutter timer otomatis untuk mengurangi guncangan kamera saat pengambilan. Untuk memulainya, biasanya kita dapat mencoba beberapa pengambilan dg setting kamera Aperture Priority, menggunakan ISO 100 atau ISO 200 (serendah mungkin), hindari penggunaan ISO booster (Low – 0.5, -1) karena biasanya booster ISO ini sifatnya ‘memaksakan’ sensor untuk menerima cahaya rendah, sehingga hasilnya tidak akan optimal. Kemudian set aperture pada f22 atau sedikit lebih rendah (ingat semakin redah nilai aperture ini semakin besar depth of field yg kita dapatkan); mungkin dengan setting tersebut kecepatan shutter dapat mencapai 5, 10 atau 20 detik; ini tergantung kondisi cahaya saat itu. Dengan melakukan percobaan ini, maka kita dapat melihat hasi mana yg paling baik untuk kamera dan lensa yg kita gunakan tersebut.

Mode shutter “Bulb”
Terkadang pengukuran shutter amatlah rendah karena kondisi cahaya yg sangat sedikit, maka kita menggunakan Speed shutter “Bulb” yaitu lebih lambat dari 30 detik (setting kebanyakan kamera untuk shutter speed terendah adalah 30 detik). Jika hal ini terjadi, gunakan lah pengukur waktu atau anda dapat memperkirakan dengan hitungan anda sendiri. Yang perlu anda ingat adalah semakin panjang exposure yg dilakukan akan menghasilkan foto digital dengan ‘noise’ yg tinggi, khususnya pada daerah-daerah yg gelap.

From Blogger Pictures

Perhatikan Situasi Sekitar
Terkadang pemakaian tripod tidak diperbolehkan dibeberapa tempat umum, misalnya didalam gedung-gedung pemerintahan, museum atau acara-acara khusus.Maka tanyakan pada pihak yg berwenang sebelum anda melakukan sesi pemotretan. Gerakan air terjun, air mancur, atau air sungai dapat merupakan obyek yg terlihat bagus untuk teknik ini, cobalah juga untuk merubah dan mencoba setting “white balance”. Untuk hal yang terakhir ini, sebetulnya white balance bisa anda ganti dan rubah pada saat anda melakukan post processing pada RAW file nya.

Latihan…!
Latihan, latihan dan latihan….! Adalah kunci untuk menghasilkan foto yang spektakuler dan indah, sekaligus mengenal peralatan fotografi anda sendiri. Jangan merasa takut dan khawatir akan hasil foto yg jelek, tanpa hasil yang jelek bagaimana kita dapat melihat hasil yang baik?

Matikan lampu dan komputer anda. Ambil kamera dan tripod anda; berangkatlah sekarang dan ambil fotografi malam…! Selamat berlatih dan hunting…! Semoga bermanfaat.
Sad Agus

My Gear – Geavity.com

Your Gear – Geavity.com

Ini adalah layanan untuk memasukkan apa saja daftar peralatan fotografi anda, caranya mudah dan sederhana. Pemilihan peralatannya juga mudah dan simpel, memang tidak semua nya komplit.
Ini sangat memudahkan kita untuk memasukkan list / daftar peralatan yang kita punya, bahkan bisa berdiskusi dengan rekan-rekan yang mempunyai peralatan yang sejenis.
Selain itu didalam layanan ini, anda disajikan dengan “gear” yang disarankan dan sesuai dengan “gear” yang sudah anda punyai.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat,

Sad Agus

Apa Itu Histogram pada digital Photo?

Histogram

Pertama lihat display histrogram, saya cenderung tidak perduli (cuek aja), toh… saya pikir foto yang saya jepret sudah kelihatan bagus. Histogram display ini biasanya dapat kita lihat di menu preview option di menu digital camera. Lama-kelamaan, saya sempat penasaran dengan histogram ini. Apa sebenernya sih histogram dari setiap photo image yang kita hasilkan? Informasi apa yang kita dapat dengan histogram ini? Terus gimana cara mengontrol nya? Mulailah saya baca-baca buku yang dulu pernah saya lewatkan, ternyata histogram ini sangat penting bagi kita untuk mengevaluasi dan menganalisa setiap hasil foto kita – yaitu melihat tingkat exposure dari bidikan kita. Paling tidak untuk Landscape photography dan ini dapat kita lakukan persis kita setelah men’jepret’ nya di lokasi pemotretan. Histogram sebenernya adalah suatu bentuk grafik sederhana yang menunjukkan nilai ‘tonal’ yang tersebar dalam suatu foto (lihat gambar histogram).

Dibagian paling kiri adalah nilai tonal ‘hitam’ tanpa detail (level 0 – nol), sedangkan di sebelah ujung kanan adalah total nilai tonal ‘putih’ tanpa detil (level 255). Tidak ada bentuk histogram yang dapat menjadi patokan, karena setiap foto mempunyai elemen dan tujuan yang berbeda-beda dan mempunyai susunan nilai ‘shadow’, ‘midtone’ dan ‘highlight’ tersendiri. Misalnya saja foto yang gelap, misalnya foto yang diambil malam hari, maka histogram nya akan lebih banyak mengelompok di sebelah kiri, sebaliknya foto-foto yang diambil siang hari, maka kurva histogram nya akan mengumpul di sebelah kanan.

Kontrol Histogram

Untuk mengontrol bentuk pola histogram dengan tujuan untuk menghasilkan foto yang optimal exposure nya ada tiga (3) hal penting yang menjadi pertimbangan yaitu –
(1) Clipping, untuk mencegah daerah ‘highlight’ (daerah terang sebelah kanan) dan daerah ‘shadow’ (daerah gelap sebelah kiri) terpotong (‘clipping’); hal ini untuk meyakinkan foto tidak ‘over’ exposure’ atau ‘under’ exposure – khususnya di sebelah sisi kanan histogram. (2) Tonal detail di kanan kiri terekam dg baik. (3) Raw Files, hal ini perlu menjadi pertimbangan untuk mendapatkan informasi yg sebanyak-banyak nya dari hasil foto yang dihasilkan yaitu pada format ‘asli’ nya (raw file).

Apapun metode yang digunakan, yang terpenting adalah memahami exposure digital camera yang baik adalah merekam cahaya dan menempatkan harga kurva tonal histogram yang tepat pada subyek yang gelap maupun terang, sehingga mempunyai keleluasaan dan fleksibilitas untuk mencapai tujuan yaitu membuat foto yang baik.

  1. Clipping Control -Untuk mendapatkan hasil foto dengan exposure yang tepat, adalah dengan melihat dan meyakinkan bahwa tidak ada tonal ‘terang’ (highlight) maupun tonal ‘gelap’ (shadow) yang terpotong / terpancung, atau dengan kata lain grafik histogram yang dihasilkan mempunyai bentuk kurva dari kiri ke kanan yang bentuk kurvanya tidak ‘berhenti’ tiba-tiba di ujung kanan dan kiri nya. Jika melihat hal ini, segera lakukan evaluasi apakah exposure nya harus dikurangi atau ditambah dengan melakukan setting exposure compensation di camera digital (+/-). Mengontrol ‘clipping’ ini cukup sulit, terutama untuk foto-foto di siang hari atau terang dengan kontras yang tinggi, inilah alasan lain mengapa penting mengambil dalam bentuk file ‘asli’ (raw) – sehingga dapat dilakukan perubahan yang mendasar nantinya. Yang terpenting foto anda terlalu ‘terang’ tapi masih dapat melihat detil bagian gelapnya. Walaupun hal ini dapat dilakukan dengan perangkat lunak photoshop, tapi yang terpenting adalah bagaimana mengambil foto aslinya dengan exposure yang tepat dan baik, yang akan menghasilkan foto lebih baik lagi.
  2. Tonal detil dan baik – Dengan terus melakukan latihan dan kebiasaan melakukan evaluasi histogram setiap kita mengambil foto, maka perubahan atau menyunting yang rumit akibat kesalahan exposure akan dapat dikurangi dan hal ini akan jauh akan banyak menghemat waktu anda. Terlalu terangnya daerah gelap dari suatu foto yang underexposured akan memperlihatkan celah besar histogram (exessive gap) dan anda perlu melakukan perubahan tonal level yang lebih halus. Terkadang kita harus melakukan pengurangan ‘noise’ di photoshop untuk dan mungkin saja kita sudah mahir melakukan hal ini, tapi tentu saja hasilnya tidak akan sebaik dengan foto yang sudah sempurna tanpa noise. Teknik yang baik adalah sebisa mungkin menghindari noise dengan menghasilkan foto dengan exposure yang tepat. Tentu saja, hal ini tidak selamanya dapat dilakukan, khususnya pada saat situasi gelap, tapi hal ini harus menjadi bahan pertimbangan.
  3. Raw files – Ketika sensor digital camera merekam cahaya dengan aperture tertentu (bukaan diafragma) dan setiap anda mengurangi satu kali stop bukaan diafragma, maka sensor akan mengurangi intensitas cahaya setengahnya, misalnya anda memakai f5.6 akan lebih terang dibanding anda memakai f8. Mungkin sudah pernah mendengar, lebih baik mengambil foto yang underexposured untuk mengurangi resiko daerah terang menjadi ‘terbakar’, karena jika daerah ‘highlight’ (terang) sudah ‘terbakar’ yaitu dimana sudah menjadi total terang (putih semua), maka daerah ini tidak akan bisa dilakukan perbaikan lagi saat anda melakukan perbaikan raw file (raw file processing).Sebaiknya suatu hasil foto usahakan untuk menghasilkan data histogram yang jauh ke kanan tanpa terpancung (non clipping), gunakan metode berikut, tambahkan kompensasi exposure 1 atau 2 stop, foto mungkin akan terlihat terang di LCD screen kamera, tapi hal ini akan mudah dirubah saat proses konversi raw file tanpa menimbulkan efek samping seperti saat menerangkan daerah gelap pada hasil foto yang ‘underexposured’. Metode ini sangat jitu untuk foto landscape photography, dimana dapat dilakukan juga dengan mode manual dan mengurangi shutter speed atau menambah aperture bukaan diafragma.

Salam,
Sad Agus